OBSERVATORIUM BOSSCHA

OBSERVATORIUM BOSSCHA
Resume Study Tour
(Kelompok 1: Allisa Nur Mauli, Ridha Amalia, Yunita)

Teleskop Utama Zeiss
       Observatorium Bosscha berlokasi di Lembang, Jawa Barat, sekitar 15 km di bagian utara Kota Bandung dengan koordinat geografis 107° 36' Bujur Timur dan 6° 49' Lintang Selatan. Tempat ini berdiri di atas tanah seluas 6 hektare, dan berada pada ketinggian 1310 meter di atas permukaan laut atau pada ketinggian 630 m dari dataran tinggi Bandung. Saat ini observatorium bosscha sudah berumur 93 tahun.       
  Observatorium bosscha merupakan sebuah laboratorium yang digunakan khusus untuk penelitian astronomi. Astronomi yaitu ilmu yang mempelajari tentang alam semesta. Dalam observatorium bosscha mempelajari bagaimana bintang, bulan, matahari, galaxy, asteroid, dan sebagainya. Observatorium Bosscha salah satu tempat peneropongan bintang tertua di Indonesia. Observatorium Bosscha (dahulu bernama Bosscha Sterrenwacht) dibangun oleh Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereeniging (NISV) atau Perhimpunan Bintang Hindia Belanda. Sedikit sejarah mengenai observatorium bosscha, Karel Albert Rudolf Bosscha (lahir di Den Haag, Belanda, 15 Mei 1865 – meninggal di Malabar Bandung, Hindia Belanda, 26 November 1928 pada umur 63 tahun) adalah seorang Belanda yang peduli terhadap kesejahteraan masyarakat pribumi Hindia Belanda pada masa itu dan juga merupakan seorang pemerhati ilmu pendidikan khususnya astronomi. 
K.A.R Bosscha
       Bosscha bukan seorang ilmuwan atau professor, beliau adalah pengusaha di bidang perkebunan teh. Beliau merupakan penyumbang dana terbesar 2000 golden atau sekitar 2 milyar rupiah pada tahun 1923. Bosscha menjadi perintis dan penyandang dana pembangunan Observatorium Bosscha yang telah lama diharapkan oleh Nederlands-Indische Sterrenkundige Vereeniging (NISV). Selain itu, bosscha diantaranya menyumbangkan dana kepada kampus ITB, gedung Kemerdekaan  Asia Afrika, adapun nama beliau dijadikan sebagai nama jalan yaitu jalan bosscha.  
Observatorium Bosscha

Kemudian ia bersama dengan Dr. J. Voute pergi ke Jerman untuk membeli Teleskop Refraktor Ganda Zeiss dan Teleskop Refraktor Bamberg. Pembangunan Observatorium Bosscha selesai dilaksanakan pada tahun 1928. Namun ia sendiri tidak sempat menyaksikan bintang melalui observatorium yang didirikannya karena pada tanggal 26 November 1928 ia meninggal beberapa saat setelah dianugerahi penghargaan sebagai Warga Utama kota Bandung dalam upacara kebesaran yang dilakukan Gemente di Kota Bandung. Selama hidupnya, Bosscha memilih untuk tidak menikah. Pada akhir hayatnya, karena kecintaannya pada Malabar, dia meminta agar jasadnya disemayamkan di antara pepohonan teh di Perkebunan Teh Malabar.


Observatorium Bosscha didirikan di Lembang, Jawa Barat karena daulu daerah ini merupakan daerah yang masih sangat sepi dan cukup gelap sehingga baik sekali untuk melakukan pengamatan perbintangan. Saat ini, kondisi di sekitar Observatorium Bosscha dianggap tidak layak untuk mengadakan pengamatan. Hal ini diakibatkan oleh perkembangan pemukiman di daerah Lembang dan kawasan Bandung Utara yang tumbuh laju pesat sehingga banyak daerah atau kawasan yang dahulunya rimbun ataupun berupa hutan-hutan kecil dan area pepohonan tertutup menjadi area pemukiman, vila ataupun daerah pertanian yang bersifat komersial besar-besaran. Dahulu, bintang-bintangnya masih terlihat banyak namun kini, hanya bintang-bintang yang memancarkan cahayanya terang saja yang dapat terlihat dan diamati. Penyebabnya adalah polusi cahaya, karena memang cahaya-cahaya bintang ini terhalangi oleh lampu kota. Akibatnya banyak intensitas cahaya dari kawasan pemukiman yang menyebabkan terganggunya penelitian atau kegiatan peneropongan yang seharusnya membutuhkan intensitas cahaya lingkungan yang minimal.

Polusi Cahaya, Lembang-Bandung
Sementara itu, kurang tegasnya dinas-dinas terkait seperti pertanahan, agraria dan pemukiman dikatakan cukup memberikan andil dalam hal ini. Dengan demikian observatorium yang pernah dikatakan sebagai observatorium satu-satunya di kawasan khatulistiwa ini menjadi terancam keberadaannya. Maka dari itu, pihak dari Observatorium Bosscha pada tahun 2008 mengadakan sebuah kampanye “Selamatkan Bosscha dari Polusi Cahaya”, namun usaha itu tidak memperoleh hasil yang baik bahkan semakin bertambah tahun polusi cahaya semakin meningkat. Polusi cahaya yang semakin mengganggu akibat dari pemukiman penduduk dan pusat bisnis di sekitar Lembang, Bandung melatarbelakangi rencana pemindahan Observatorium Bosscha.
Untuk rencana pemindahannya, tim riset astronomi Institut Teknologi Bandung memilih Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Alasan dipilihnya Kupang sebagai tempat pengganti untuk Bosscha adalah langit di sana jauh lebih terang dibandingkan di Lembang. Pembangunan ini diperkirakan selesai tahun 2019 yang akan datang. Untuk menggunakan teleskop yang ada di NTT, tidak perlu jauh kesana karena teleskop tersebut dapat dikendalikan melalui Observatorium Bosscha. Teleskop yang akan dibuat ukurannya 6x lebih besar dari teleskop di Bosscha. Jika sudah jadi, teleskop ini akan menjadi teleskop terbesar seAsia Tenggara. Dengan rencana pemindahan ini juga diharapkan untuk lebih memajukan lagi bidang antariksa di Indonesia.
Didalam observatorium bosscha terdapat beberapa teleskop diantaranya teleskop Refraktor Ganda Zeiss, teleskop Schmidt Bima Sakti, teleskop Refraktor Bamberg, teleskop Cassegrain GOTO, teleskop Refraktor Unitron, teleskop surya dan teleskop radio 2,3 m. Teleskop Ganda Zeiss merupakan jenis refraktor (menggunakan lensa) dan terdiri dari 2 teleskop utama dan 1 teleskop pencari (finder). Diameter teleskop utama adalah 60 cm dengan panjang fokus hampir 11 m, teleskop pencari berdiameter 40 cm, focus : 1072 & 1078 cm, terdapat 10.000 data pengamatan bintang ganda visual yang diperoleh dari teleskop ini. Instrumen utama ini telah digunakan untuk berbagai penelitian astronomi, antara lain untuk pengamatan astrometri, khususnya untuk memperoleh orbit bintang ganda visual. Selain itu, teleskop ini juga digunakan untuk pengamatan gerak dari bintang dalam gugus bintang, pengukuran paralak bintang guna penentuan jarak bintang. Pencitraan dengan CCD juga digunakan untuk mengamati komet dan planet-planet, misalnya Mars, Jupiter, dan Saturnus. Dengan menggunakan spektrograf BCS (Bosscha Compact Spectrograph), teleskop ini secara kontinu melakukan pengamatan spektrum bintang-bintang.
Pengamatan bintang-bintang dilakukan pada malam hari, jika pada siang hari bintang hanya satu yaitu matahari. Dengan teleskop ini mampu mempebesar benda hingga 1100 x lebih besar. Bintang ganda yaitu Sirius A dan Sirius B (bintang mati). Matahari memiliki kandungan hydrogen dan helium yang mana manusia dapat meneliti matahari akan mati pada 4,7 milyar. Pengamatan yang dilakukan pada siang hari dapat digunakan teleskop surya. Jarak bumi ke matahari kurang lebih 150 juta km sedangkan jarak bintang dari matahari adalah 4,2 tahun cahaya dengan 270.000 x jarak matahari-bumi atau 39.900.000.000.000 km.
Bintang terdekat nomor 2 adalah proxima centauri. Ketika kita bediri di siang hari itu juga kemudian kita merasakan suhu panas dari matahari yang bersumber dari 8 menit yang lalu. Pada tanggal 20 mei 2001 tepat di hari sabtu malam terdapat planet jupiter, bintang spica, arcturus, procyon, betelgeuse, sirius. Planet Jupiter dikelilingi oleh 4 bulan yaitu IU, Europa, Ganymede, callisto. Negulat adalah tempat lahirnya sebuah bintang. Planet venus memiliki kandungan planet yang sangat panas sedangkan Bumi mengeluarkan karbondioksida 30 milyar ton/ tahun.
Macam-macam bintang yang dimulai dari terkecil sampai terbesar yaitu sinus, pollux, Arcturus, al debaran, rigel, pistol star, Antares, mu chapel, VYcanis maoris. Nama-nama bintang bersumber dari kebudayaan Romawi Yunani. Galaksi memiliki 200 milyar jumlah bintang. Untuk saat ini baru ditemukan 202 milyar galaksi. Hole merupakan yang bermassa dapat melengkungkan ruang dan waktu (menurut Einstein).


Bangunan Kupel, Teleskop Utama (Zeiss)
Suatu bangunan megah di sebuah lapangan berumput hijau berdiri tegar di tanah Lembang. Bangunan itu adalah saksi bisu hubungan kasih antara manusia dengan ciptaan Tuhan, langit malam yang menyembunyikan keindahannya dari mata manusia. Ia mengungkap yang satu sebenarnya dua dan membuka mata manusia bahwa semesta ini terlalu unik untuk sekadar dipandang.

Bangunan itu bernama Kupel yang berdiri di komplek Observatorium Bosscha dan menjadi salah satu bangunan legenda di Observatorium yang mulai didirikan pada tahun 1923 tersebut. Orang sering menyalah artikan bahwa Kupel merupakan bangunan Bosscha, padahal Kupel sendiri adalah salah satu dari beberapa teleskop yang beristana di observatorium tersebut. Kupel merupakan merupakan rumah teleskop dari teleskop utama yang berada di Observatorium Bosscha yang bernama Zeiss.
Teleskop Zeiss
 Zeiss merupakan teleskop buatan Jerman yang merupakan hasil dari korespondensi astronom Belanda, `George Erardus Gijsbertus Voute dengan astronom-astronom Eropa. Beliau mengusulkan teleskop refraktor (teleskop dengan menggunakan lensa) dengan fokus yang panjang. Pemilihan teleskop ini didukung oleh ambisi pribadi Beliau untuk mengukur posisi dan separasi sudut bintang ganda di langit belahan selatan. Saat itu, pengamatan bintang ganda merupakan isu yang sedang hangat dikalangan astronom internasional. Selain itu, observatorium besar di belahan Bumi selatan hanya satu saat itu yaitu Royal Observatory, Cape of Good Hope sehingga peluang Observatorium Bosscha saat itu menjadi besar dalam mengungkap rahasia langit di belahan selatan.
Teleskop Zeiss memiliki spesifikasi yang unggul pada masanya. Zeiss memiliki panjang fokus sekitar 11 meter dan diameternya 60 sentimeter. Dengan spesifikasi ini, teleskop ini dapat memisahkan dua benda dengan separasi sudut sekitar 0,2 detik busur. Teleskop ini terdiri atas dua teleskop utama dan satu finder atau teleskop pencari objek dengan diameter 40 sentimeter. Finder teleskop Zeiss memiliki medan pandang (cakupan langit yang dapat diamati menggunakan finder) sebesar 1,5 derajat atau tiga kali diameter bulan purnama.

Teleskop Zeiss
Teleskop Zeiss sampai saat ini masih digunakan untuk penelitian astronomi. Sama seperti seorang dokter yang mempunyai spesialisasi sendiri, teleskop Zeiss seperti seorang dokter yang khusus menangani penelitian bintang ganda. Penelitian tersebut dilakukan oleh dosen Astronomi ITB, peneliti astronomi baik dari Observatorium Bosscha dan internasional serta mahasiswa astronomi yang sedang melakukan praktikum atau tugas akhir.
Bintang ganda adalah dua buah bintang yang terikat oleh gravitasi pusat massa. Kedua bintang memiliki kecepatan masing-masing bergantung pada massa bintang. Bintang ganda ada beberapa jenis yaitu bintang ganda visual, bintang ganda astrometri, bintang ganda spektroskopi dan bintang ganda gerhana. Untuk pengamatan bintang ganda yang dilakukan menggunakan teleskop Zeiss biasanya berfokus pada bintang ganda visual untuk menentukan separasi jarak antara kedua bintang. Bintang ganda visual adalah bintang ganda yang jarak antar kedua bintang jauh sehingga dapat dilihat melalui teleskop. Sejak pertama kali beroperasi hingga sekarang, terdapat sekitar 10.000 data pengamatan bintang ganda visual yang diperoleh dengan bantuan teleskop ini.
Pengamatan bintang ganda yang telah dilakukan dari awal observatorium mulai beroperasi diantaranya pengamatan parameter orbit dari bintang Sirius B. Sirius adalah bintang paling terang di rasi Canis Mayor sekaligus bintang yang paling terang di langit malam. Pada tahun 1862 bintang Sirius diketahui memiliki pasangan yang sangat redup dan hingga saat ini pasangan dari bintang Sirius yang ditemukan tersebut  bernama bintang Sirius B. Pada masa awal, Observatorium Bosscha ikut mengambil andil dalam pengamatan bintang tersebut.
Selain melakukan pengamatan pada bintang Sirius B, Observatorium Bosscha dengan menggunakan teleskop Zeiss juga melakukan pengamatan pada parameter orbit bintang ganda lainnya. Seperti yang diungkapkan dalam makalah yang ditulis oleh Jasinta, dkk pada tahun 1995 dan tahun 1999, tercatat bahwa pengamatan fotografi bintang ganda visual pada tahun 1987-1989 mencapai 221 bintang ganda. Pada tahun 1980 dan 1990-1991 tercatat mengamati 399 bintang ganda visual yang telah tercatat dalam katalog Hipparcos Input Catalogue (HIC) dan 72 bintang ganda visual pada tahun 1992-1997. Selain publikasi tersebut, adapula publikasi lain yang berkaitan dengan bintang ganda visual antara lain mengenai parameter orbit bintang WDS 17190-3459 yang ditulis oleh Rukman Nugraha dan S. Siregar  serta parameter orbit bintang Xi Ursa Majoris yang ditulis oleh S.Siregar dan D. Hadi Nugroho.
Tantangan saat ini dalam mengamati bintang ganda dengan menggunakan Teleskop Zeiss adalah keadaan atmosfer di Observatorium Bosscha. Akibat turbulensi udara akibat tekanan yang berbeda di atmosfer, hal tersebut dapat mengganggu pengamatan bintang ganda terutama untuk bintang dengan jarak sudut yang sangat dekat.
Ketika mengamati bintang ganda dengan jarak sudut bintang sangat dekat dan terjadi turbulensi saat itu, maka yang terjadi adalah citra bintang menjadi bergoyang dan kedua bintang seolah menyatu sehingga tidak dapat dipisahkan. Untuk mengatasi hal ini, astronom atau mahasiswa Astronomi yang ingin meneliti tentang parameter orbit harus menggunakan suatu teknik olah data dalam astronomi salah satunya adalah Speckle interferometry. Selain tantangan tersebut, kiriman polusi cahaya dari Kota Bandung juga menggangu pengamatan sehingga susah mencari objek-objek yang redup. 
Walaupun usia teleskop Zeiss sudah mencapai kepala sembilan, namun teleskop ini masih digunakan hingga sekarang untuk pengamatan bintang ganda visual oleh mahasiswa Astronomi ITB dan peneliti dalam bidang astronomi. Studi tour ilmu falak mengunjungi tempat wisata Dusun Bambu dan Observatorium Bosscha, Lembang Bandung. Di Dusun Bambu melakukan wisata alam setelah itu di Observatorium Bosscha melaksanakan kuliah umum ilmu falak dan pengenalan teleskop zeiss serta mendapat kesempatan menggunakan teleskop Bamberg dan teleskop Bima Sakti. Kami melihat bintang Arcturus dan palnet Jupiter.


Teleskop Bamberg

Study Tour Ilmu Falak Mahasiswa Pendidikan Matematika smt 6. Angkatan 2014
Universitas Muhammadiyah Prof.Dr.Hamka
17 Mei 2017



Dosen Pengampu: Dr. Sigid Edy Purwanto, M.Pd.




Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer